BERANDA

Senin, 03 Oktober 2016

ISI MAKALAH



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Belajar merupakan kegiatan seseorang untuk melakukan aktifitas belajar. Menurut Piaget belajar adalah aktifitas anak bila ia berinteraksi dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya.Menurut pandangan psikologi behavioristik merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang yang telah selesai melakukan proses belajar akan menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini yang penting dalam belajar adalah input yang berupa stimulus  dan output yang berupa respon.
Jika ditinjau dari konsep atau teori, teori behavioristik ini tentu berbeda dengan teori yang lain. Hal ini  dapat kita lihat dalam pembelajaran sehari-hari dikelas. Ada berbagai asumsi atau pandangan yang muncul tentang teori behavioristik. Teori behavioristik memandang bahwa belajar adalah mengubah tingkah laku siswa dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan tugas guru adalah mengontrol stimulus dan lingkungan belajar agar perubahan mendekati tujuan yang diinginkan, dan guru pemberi hadiah siswa yang telah mampu memperlihatkan perubahan bermakna sedangkan hukuman diberikan kepada siswa yang tidak mampu memperlihatkan perubahan makna.
Oleh karenanya, dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Bimbingan dan Konseling Belajar, kelompok  kami menyusun makalah teori belajar menurut aliran behavioristik yang juga dilatar belakangi oleh rasa ingin tahu kami yang ingin mengetahui lebih lanjut lagi tentang teori behavioristik dan diharapkan tidak lagi muncul asumsi yang keliru tentang  pendekatan behavioristik  tersebut, sehingga pembaca memang benar-benar mengerti apa dan bagimana pendekatan behavioristik.

1.2  Rumusan Masalah
a.       Pengertian Belajar Menurut Pandangan Teori Behavioristik
b.      Ciri – Ciri Teori Behavioristik
c.       Prinsip – Prinsip Dasar  Teori Behavioristik
d.      Kritik terhadap Teori Behavioristik
e.       Pentingnya Teori Behavioristik
f.       Kelebihan dan Kekurangan Teori Behavioristik
g.      Aplikasi Teori Behaviorstik Dalam Kegiatan Pembelajaran


1.3  Tujuan
a.       Mengetahui dan memahami pengertian belajar menurut pandangan teori behavioristik
b.      Mengetahui dan memahami ciri – ciri teori behavioristik
c.       Mengetahui dan memahami prinsip – prinsip dasar  teori behavioristik
d.      Mengetahui dan memahami kritik terhadap teori behavioristik
e.       Mengetahui dan memahami pentingnya teori behavioristik
f.       Mengetahui kelebihan dan kekurangan teori behavioristik
g.      Mengetahui dan memahami aplikasi teori behaviorstik dalam kegiatan pembelajaran

BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Belajar Menurut Pandangan Teori Behavioristik

Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil dari interaksi antara stimulus dan respons. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan tingkah lakunya. Sebagai contoh, anak belum dapat berhitung perkalian, walaupun ia sudah belajar dengan giat, dan gurunya pun telah berusaha membantu untuk memahami perkalian, namun bila anak tesebut belum dapat mempraktikkan perkalian, maka anak itu belum dianggap belajar. Karena ia belum menunjukkan perilaku sebagai hasil belajar.
Menurut teori ini yang terpenting ialah masukan atau input berupa stimulus dan keluaran atau output berupa respons. Dalam contoh diatas, stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa misalnya daftar perkalian, alat peraga dan lain sebagainya untuk  membantu siswa dalam belajar, sedangkan respons adalah reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru. Menurut teori behavioristik, apa yang terjadi antara stimulus dan respons tidak dianggap penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal yang penting untuk melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.
Faktor lain yang bepengaruh pada proses belajar menurut Teori Behavioristik ialah penguatan, dapat berupa penguatan positif atau negatif. Kedua penguatan ini sama-sama dutujukan untuk mencapai respons yang diinginkan. Jadi penguatan merupakan suatu bentuk stimulus yang penting diberikan (ditambah) atau dihilangkan (dikurangi) untuk memungkinkan terjadinya respons.
Berikut beberapa Pengertian belajar menurut beberapa tokoh Aliran Behavioristik :

a.       Teori belajar menurut Thorndike
Perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar dapat berupa wujud konkrit yaitu yang dapat diamati dan yang tidak konkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun Aliran Behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, namun ia tidak bisa menjelaskan  bagaimana cara mengukur tingkah laku yang tidak dapat diamati. Teori ini disebut juga Teori Koneksionisme.

b.      Teori belajar menurut Watson
Belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respons, namun stimulus dan respons yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur. Menurut Watson, hanya dengan hal inilah dapat diramalkan perubahan apa yang akan terjadi setelah seseorang melakukan tindakan belajar.


c.       Teori belajar menurut Clark Hull
Dalam definisinya mengenai belajar, Clark Hull sangat dipengaruhi oleh Teori Evolusi Darwin, menurutnya, semua fungsi tingkah laku penting dalam menjaga kelangsungan hidup manusia. Oleh sebab itu, Clark Hull menyatakan bahwa kebutuhan biologis merupakan penting dan sentral dalam seluruh kegiatan manusia, termasuk dalam pemberian stimulus harus dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun nantinya respons yang diberikan bermacam-macam bentuknya.

d.      Teori belajar menurut Edwin Gutrie
Menurut Gutrie, pemberian stimulus belajar tidak harus melulu tentang pemenuhan kebutuhan biologis manusia saja, menurutnya, hubungan antara stimulus dan respons hanya bersifat sementara, oleh karena itu pemberian stimulus dalam kegiatan belajar peserta didik harus dilakukan sesering mungkin, agar hubungan stimulus dan respon lebih tetap. Gutrie juga menyatakan bahwa hukuman memgang peranan penting dalam belajar, hukuman yang tepat dapat merubah kebiasaan seseorang.

e.       Teori belajar menurut Skinner
Skinner mengemukakan bahwa hubungan antara stimulus dan respons pada kegiatan belajar tidak sesederhana seperti yang dikemukakan oleh tokoh sebelumnya. Menurutnya setelah stimulus - stimulus diberikan kepada siswa, stimulus – stimulus tersebut akan saling berinteraksi dan interaksi tersebut akan memengaruhi respons yang dimunculkan, dan respons yang dimunculkan tersebut akan mempunyai konsekuensi tersenduri. Skinner menyatakan bahwa untuk memahami respons yang muncul harus diperhatikan pula hubungan antara stimulus satu dengan stimulus lainnya, ia juga mengatakan bahwa dengan menggunakan perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku akan menambah rumit, karena setiap alat membutuhkan penjelasan, demikian seterusnya.

f.       Teori Belajar menurut Pavlov
Pavlov mengemukakan sebuah teori belajar yang yang menggunakan media berupa neutral stimulus (rangsangan) agar mendapat respon yang sama seperti pada saat unresponse conditioning (respon yang didapat tanpa menggunakan media apapun atau terjadi secara alami).
Teori Behavioristik seringkali tidak dapat menjelaskan situasi belajar yang kompleks,, sebab banyak hal – hal dalam pendidikan tidak dapat dirubah menjadi sekadar hubungan stimulus dan respons , teori ini tidak dapat menjelaskan apa yang mengacaukan hubungan antara stimulus dan respons dan tidak dapat menjawab hal – hal yang menyebabkan terjadinya penyimpangan antara stimulus yang diberikan dengan responnya. Teori behavioristik juga tidak dapat menjelaskan adanya variasi emosi siswa walaupun mereka memiliki pengalaman stimulus dan penguatan yang sama, dan tidak meperhatikan pengaruh pikiran, perasaan dalam kegiatan belajar.
     Teori Behavioristik juga cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif.. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukkan atau shaping.
2.2 Ciri – Ciri Teori Behavioristik
Untuk mempermudah mengenal teori behavioristik dapat di pergunakan ciri – ciri sebagai berikut : (1). Mementingkan pengaruh lingkungan (environmentalistis), (2). Mementingkan bagian – bagian (elentaristis), (3). Mementingkan peranan reaksi (respon), (4). Mementingkan mekanisme terbentuknya hasil belajar,  (5). Mementingkan hubungan sebab akibat pada waktu yang lalu, (6). Mementingkan pembentukan kebiasaan, (7). Ciri khusus dalam pemecahan masalah dengan “mencoba dan gagal” atau trial and error.
2.3 Prinsip – Prinsip Dasar  Teori Behavioristik
Prinsip – prinsip teori behavioristik yang banyak diterapkan dalam dunia pendidikan meliputi : (1). Menekankan pada pengaruh lingkungan terhadap perubahan perilaku, (2). Menggunakan prinsip penguatan, yaitu untuk mengidentifikasi aspek paling diperlukan dalam pembelajaran dan untuk mengarahkan kondisi agar peserta didik dapat mencapai peningkatan yang diharapkan, (3). Mengidentifikasi karakteristik peserta didik, untuk menetapkan pencapaian tujuan pembelajaran, (4). Lebih menekankan pada hasil belajar daripada proses pembelajaran
2.4 Kritik terhadap Teori Behavioristik
Berikut beberapa kritik terhadap Teori Behavioristik : 
1.    Tidak dapat menjelaskan situasi belajar yang kompleks.
2.   Asumsi bahwa semua hasil belajar berupa perubahan tingkah laku yang dapat diamati, dianggap menyederhanankan masalah belajar yang sesungguhnya.
3.    Tidak semua hasil belajar dapat diamati.
4.  Cenderung mengarahkan peserta didik berpikir linier, tidak konvergen, dan tidak  kreatif.

2.5 Pentingnya Teori Behavioristik
Pentingnya para guru, perancang pembelajaran, dan pengembang program – program pembelajaran memahami teori belajar behavioristik mempunyai alasan sebagai berikut :
a.     Teori belajar ini membantu para guru, perancang pembelajaran, dan pengembang     program – program pembelajaran untuk memahami proses belajar yang terjadi di dalam diri peserta didik.
b.    Dengan kondisi ini para guru, perancang pembelajaran, dan pengembang program – program pembelajaran dapat mengerti kondisi – kondisi dan faktor – faktor yang dapat mempengaruhi, memperlancar, atau menghambat proses belajar.
c.   Memungkinkan untuk melakukan prediksi yang cukup akurat tentang hasil yang dapat diharapkan suatu aktivitas belajar . Teori ini telah memberikan banyak konstribusi bagi pengembangan teori belajar selanjutnya. Bahkan telah banyak diyakini oleh para ahli pendidikan, sekolah, bahkan diluar sekolah.
2.6. Kelebihan dan Kekurangan Teori Behavioristik
Kelebihan:
1.      Membiasakan guru untuk jeli dan peka terhadap situasi belajar.
2.      Guru tidak banyak memberikan ceramah agar murid belajar mandiri.
3.      Membentuk perilaku yang diinginkan dengan menggunakan penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif.
4.      Dengan melalui pengulangan dan pelatihan, yang berkesinambungan dapat mengoptimalkan bakat dan kecerdasan siswa yang sudah terbentuk sebelumnya.
5.      Bahan ajar yang disusun hierarkis dari yang sederhana sampai yang kompleks mampu menghasilkan perilaku yang konsisten terhadap bidang tertentu.
6.      Dapat mengganti stimulus sesuai dengan respon yang diinginkan.
7.      Cocok untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktik dna kebiasaan.
8.      Cocok untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan peran orang dewasa suka mengulangi dan harus dibiasakan serta senang dengan bentuk penghargaan langsung.
      Kekurangan:
1.      Konsekuensi bagi guru untuk menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap.
2.      Tidak semua pelajaran bisa digunakan dengan model ini.
3.      Murid sebagai pendengar dan dituntut untuk menghafalkan.
4.      Penggunaan hukuman.
5.      Murid dipandang pasif.
6.      Cenderung mengarahkan siswa untuk berfikir linier , tidak kreatif dan tidak produktif.
7.      Pembelajaran berpusat pada guru.
8.      Guru cenderung otoriter.

2.7  Aplikasi Teori Behaviorstik Dalam Kegiatan Pembelajaran
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajarn tergantung pada beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pembelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan berpijak pada teori behavioristik memandang pengetahuan sebagai sesuatu yang obyektif, pasti, tetap dan tidak berubah. Siswa diharapkan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan.Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yang sudah ada. Karena teori ini memandang dunia sebagi sesuatu yang rapi, maka siswa dituntut pada aturan – aturan yang jelas dan telah ditatpkan dahulu secara ketat. Pembiasaan disiplin menjadi sesuatu yang esensial dalam kegaitan belajar, yang berhasil diberi hadiah dan yang gagal diberi hukuman. Siswa harus taat aturan dan kontrol kegiatan belajar berada pada sistem yang berada diluar siswa.
Tujuan pembelajaran menurut teori behavioristik ialah penambahan pengetahuan, menuntut siwa untuk dapat mengungkapkan kembali apa yang telah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis atau tes. Penyajian materi diatur disampaikan dari bagian ke keseluruhan yang berdasarakan kurikulum yang telah diatur secara ketat, serta banyak didasarkan pada buku teks dan buku wajib dengan penekanan mampu menjelaskan kembali isi buku tersebut. Evaluasi menurut Teori Behavioristik menekankan pada respon pasif, berupa Paper Atau Pencil Test yang menuntut satu jawaban “benar” sesuai dengan keinginan guru. Teori ini menekankan evaluasi pada kemapuan siswa secara individual. Siciati dan Prasetya Irawan dalam Asri (2005) merancang langkah – langkah yang dapat digunakan dalam merancang proses pembelajaran :
1.         Menentukan tujuan – tujuan pembelajaran.
2.         Menganalisis lingkungan kelas yang ada saat ini termasuk mengidentifikasi pengetahuan awal siswa.
3.         Menentukan materi pelajaran.
4.         Memecah materi pelajaran menjadi bagian kecil – kecil, meliputi pokok bahasan, sub pokok bahasan, topik, dsb.
5.         Menyajikan materi pelajaran.
6.         Memberikan stimulus, dapat berupa : pertanyaan baik lisan maupun tertulis, tes/kuis, latihan dan tugas – tugas.
7.         Mengkaji dan mengamati respons yang diberikan siswa.
8.         Memberi penguatan (positif atau negatif), ataupun hukuman.
9.         Memberikan stimulus baru.
10.     Mengamati dan mengkaji respons siswa.
11.     Memberikan penguatan lanjutan atau hukuma.
12.     Demikian seterusnya.
13.     Evaluasi hasil belajar.

        BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil dari interaksi antara stimulus dan respons. Beberapa ahli seperti Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Gutrie, Skinner dan Pavlov juga menyumbangkan pemikirannya dalam teori behavioristik. Teori behavioristik juga memiliki ciri-ciri, prinsip, kelemahan dan kelebihan serta berbagai kritik terhadap perumusannya, teori behavioristik juga dapat diaplikasikan dalam konsep pembelajaran.


DAFTAR RUJUKAN
Budiningsih, C. Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Thobroni, M. 2015. Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.



MAKALAH



MAKALAH
TEORI BEHAVIORISTIK
TUGAS KELOMPOK
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah
Bimbingan dan Konseling Belajar
yang Dibina Oleh Drs.Widada, M.Si





Oleh:
1.      Alfiyatuz Zahro’. F                 (04)
2.      Aulia Nur Fadhilah                 (07)
3.      Diah Sri Wilujeng                   (10)
4.      Muhammad Alvin                   (20)



UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING
September 2016


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT karena limpahan rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul Teori Behavioristik. Makalah ini membahas tentang teori behavioristik dalam belajar. Dalam menyelesaikan makalah ini, kami telah banyak menerima bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian makalah ini.
Dengan terselesaikannya makalah ini kami berharap dapat member manfaat bagi para pembaca mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan Bimbingan dan Konseling Belajar, yang mencakup hal- hal yang akan di bahas dengan sistematis melalui makalah ini. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi materi, sistematika, pembahasan, maupun susunan bahasanya. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak.


Malang, 27 September 2016


Kelompok 2


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB 1 PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 1
1.3 Tujuan 1
BAB 2 PEMBAHASAN 2
2.1  Pengertian Belajar Menurut Pandangan Teori Behavioristik...............................................2
2.2 Ciri – Ciri Teori Behavioristik 4
2.3  Prinsip – Prinsip Dasar  Teori Behavioristik 4
2.4  Kritik terhadap Teori Behavioristik 4
2.5  Pentingnya Teori Behavioristik............................................................................................4
2.6  Kelebihan dan Kekurangan Teori Behavioristik..................................................................5
2.7  Aplikasi Teori Behaviorstik Dalam Kegiatan Pembelajaran...............................................6
BAB 3 PENUTUP 8
3.1 Simpulan 8
DAFTAR PUSTAKA 9